Instagram

Friday, February 19, 2016

Penginjilan dan Pertumbuhan Gereja




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Gereja sudah seharusnya menjadi jawaban bagi dunia ini dan selamanya Gereja harus melayani. Gereja adalah alat sekaligus wakil dari Roh Kudus untuk melaksanakan rencana dan maksud yang telah ditetapkan Tuhan Yesus Kristus, untuk menjangkau seluruh umat manusia ke seluruh dunia sesuai dengan Amanat Agung, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Mat 28:18-20.[1]
Amanat Agung ini ditujukan kepada semua orang, yang berarti tidak mengenal suku, bangsa dan agama, tugas kita sebagai orang percaya adalah tetap memberitakan kabar baik dengan cara yang baik dan benar. Tentunya ini juga tugas Gereja untuk melatih jemaatnya, dalam khotbah, pendalaman Alkitab, komunitas sel atau sekolah Alkitab, supaya dapat memberitakan injil dengan cara-cara yang praktis dan mudah dimengerti. Sehingga tidak hanya sekedar memenangkan jiwa saja, tetapi Gereja juga bertumbuh secara kualitas maupun secara kuantitas.
1.2  Tujuan dari Tema
Dalam pengembalaan dan penginjilan kita dapat membantu pertumbuhan Gereja dengan menjadikan semua bangsa murid Yesus" dan "jadi saksi Yesus", sehingga banyak orang yang datang sujud menyembah Tuhan. Tujuan penginjilan juga adalah menghasilkan buah-buah Injil. Firman Allah, ketika diberitakan dengan kuasa Roh Kudus akan dapat merobohkan segala kubu perlawanan di dalam pikiran manusia dan membawa hati manusia kembali untuk menaklukkan diri di hadapan takhta Allah,[2] dan juga supaya orang-orang mengerti bahwa Allah menawarkan keselamatan dan supaya mereka menerima keselamatan itu dengan iman, lalu hidup sebagai murid Yesus. Seperti yang ditetapkan dalam Perjanjian Lausanne, "Menginjili ialah memberitakan Kabar Baik bahwa Yesus Kristus mati bagi dosa-dosa kita, dan Ia sudah dibangkitkan dari antara orang mati, menurut Kitab Suci. Dalam pertumbuhan gereja yang sehat tidak pula ditentukan dari banyaknya orang dan ramainya orang berkumpul dalam suatu peribadatan yang berlangsung di hari Minggu atau tengah minggu. Keseimbangan antara kualitas dan kuantitas tentu sangatlah penting. Kualitas iman yang baik dari perkumpulan orang percaya harus dapat menarik banyak orang datang kepada Allah. Namun sebuah realitas yang baru harus dipahami bahwa gereja yang bertumbuh harus pula dapat mengembangkan pos-pos pelayanan yang pada akhirnya didewasakan dan terus berkembang. Jadi gereja yang bertumbuh harus dapat menyebar, sesuai dengan Amanat Agung. "Pertumbuhan gereja adalah suatu disiplin ilmu yang menyelidiki sifat-sifat, perluasan, perintisan, pelipatgandaan, fungsi, dan kesejahteraan gereja-gereja Kristen dalam hubungannya dengan penerapan yang efektif dari amanat Allah untuk "menjadikan semua bangsa murid-Nya" (Matius 28:18-20)

1.3  Indikator
1.      Jemaat dapat memahami dan mengerti pengertian dari Penginjilan
2.      Jemaat dapat memahami dan mengerti pengertian dari Pertumbuhan Gereja
3.      Jemaat dapat mengetahui hubungan antara Penginjilan dan Pertumbuhan Gereja
4.      Dapat mengimplikasikan dalam kehidupan pelayanan bergereja

1.4  Pembahasan
1.      Pengertian dari Pengembalaan dalam Pertumbuhan Gereja
2.      Pengertian dari Penginjilan dalam Pertumbuhan Gereja
3.      Pengertian dalam Pertumbuhan Gereja






BAB II
DESKRIPASI
Penguraikan dan penjelasan dari segi etimologisnya mengenai Misi, sehingga kita dapat memahami arti penginjilan itu apa dan dapat dalam pertumbuhan Gereja. Missiologi berasal dari kata dalam bahasa Latin missio dan bahasa Yunani logos. Mission berarti perutusan dengan pesan atau message khusus untuk disampaikan atau tugas khusus untuk dilaksanakan. Logos berarti ilmu atau studi, kata atau wacana, yang dari beberapa pengertian itu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa misiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perutusan. Berangkat dari segi etimologis dari kata itu, missiologi kurang lebih bisa diartikan sebagai tugas atau pesan khusus yang harus disampaikan dengan cara yang khusus pula.[3] Dalam rangka merefleksikannya secara teologis maka missiologi tidak hanya ilmu tentang perutusan melainkan juga adalah teologi tentang perutusan karena menyangkut refleksi serta tanggapan ilmiah tentang dimensi iman gereja kepada Allah dan Yesus Kristus serta keterbukaan gereja terhadap dunia. Gereja mengalami bahwa telah dipanggil dalam iman kepada Tritunggal itu dan diutus untuk mewartakan kabar sukacita kepada seluruh suku bangsa sampai ke ujung dunia.[4]  Pekabaran Injil berasal dari Allah (Missio Dei). Keinginan untuk pekabaran Injil dari semula sudah berada di dalam rencana dan tindakan  Allah. Pekabaran Injil bukanlah sebuah gagasan Perjanjian Baru atau beberapa ayat Alkitab saja, tetapi pekabaran Injil terdapat di seluruh Alkitab yang berarti bahwa misi itu merupakan sebuah kebutuhan dan juga tanggung jawab yang sangat besar bagi gereja bagi rencana Allah untuk dunia ini secara holistik.
            Kata misi sangat sering juga kita dengar dalam ruang lingkup gereja, yang berkaitan dengan tugas penginjilan dan pelayanan gereja di tengah-tengah dunia ini. Berangkat dari pengertian misi lalu kaitannya dengan tugas gereja ditengah-tengah dunia ini penulis akan memberikan beberapa gambaran terkait tugas tersebut. Masa kini, gereja tinggal memelihara dan memupuk jemaat hasil dari penginjilan yang lama, sangat sedikit sekali gereja yang mengutus pendeta atau penginjil ( missioner ) ke daerah-daerah yang benar-benar baru untuk memberitakan Injil atau melaksanakan misi seperti perintah yang disampaikan oleh Yesus dalam Amanat Agung. Menginjil ialah memberitakan Kabar Baik yang mencakup segenap daya upaya gereja dalam rangka memberitakan tentang kasih Allah, tentang dosa manusia yang kemudian melalui kematian Kristus beroleh pengampunan dengan menerima Dia sebagai Juruselamat. Penginjilan adalah berita anugerah bahwa ada pengampunan dosa oleh Allah melalui Yesus yang mati di kayu salib.[5]  Tugas gereja yang merupakan sebagai sarana penginjilan ini, diharapkan bisa dilaksanakan dengan seefektif mungkin agar mencapai sasaran dan tujuan yang telah disebutkan dalam Amanat Agung tersebut. Tugas gereja ialah pergi untuk membaptiskan dan mengajarkan kepada setiap orang, setiap suku bangsa dibumi tentang kasih Yesus yang tidak ingin ada satupun dari umat-Nya yang terhilang dari kawananannya
1.      Pengertian dari Pengembalaan dalam Pertumbuhan Gereja
Ukuran keberhasilan dalam pelayanan penggembalaan tidak bisa diukur dari kuantitas belaka tanpa memperhitungkan kualitas rohani. Justru penilaian kualitas rohani inilah yang lebih penting dari sekedar jumlah (kuantitas). Dalam surat-surat penggembalaan, Paulus selalu menasihati Timotius dan Titus untuk meningkatkan kualitas jemaat melalui ajaran-ajaran yang sehat, dan memperingatkan jemaat bahaya-bahaya atau ancaman-ancaman terhadap pertumbuhan kerohanian mereka.
Nampaknya, bagi Paulus jumlah jemaat merupakan prioritas kedua, namun kualitas jauh lebih penting. Tuhan akan merasa lebih senang melihat para penatua, diaken, dan para penilik jemaat memenuhi kriteria yang ditetapkan dan selanjutnya mempertahankan hidup rohani mereka sesuai kriteria dan standar yang benar dan sesuai dengan kehendak-Nya. Tuhan juga akan lebih senang melihat para umat-Nya tidak hanya berdoa bagi kepentingan mereka sendiri, tetapi kepentingan semua orang, termasuk para pembesar dan aparat pemerintah yang mungkin tidak mereka sukai atau menindas mereka, karena pada dasarnya Allah menginginkan keselamatan semua orang.[6]
Jadi, ukuran keberhasilan dalam pertumbuhan gereja dan pelayanan penggembalaan, harusnya diutamakan pada peningkatan kualitas rohani, sehingga kuasa doa dan karya Roh Kudus tidak sia-sia. Bila kualitas jemaat meningkat karena doa dan karya Roh Kudus, maka secara otomatis ini merupakan magnet yang mampu menarik banyak orang sehingga jumlah jemaat akan meningkat pesat.
Secara umum pelayanan penggembalaan masa kini masih mengacu pada Alkitab yang diyakini sebagai Firman Tuhan. Dengan demikian, apa yang dicantumkan dalam Alkitab harus tetap up to date dan berlaku abadi sampai kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Doa malahan lebih dan semakin dibutuhkan di tengah masyarakat yang semakin beragam dan semakin menuntut. Tanpa doa mustahil gereja bisa bertahan. Tanpa doa yang terus menerus (Ef 6:18-20) dari jemaat, pelayanan akan goyah dan mungkin hancur total. Ini juga berlaku Indonesia yang masih diliputi ketidakpastian (dalam bidang poleksosbud) tentunya sangat membutuhkan doa syafaat yang berkelanjutan untuk pemulihannya.[7]
Di samping itu, seperti urapan yang turun ke atas Yesus dalam Luk 4, peran Roh Kudus masih dan akan tetap dibutuhkan oleh setiap gembala. Kuasa inilah yang mampu memenuhi kebutuhan jemaat, baik secara fisik (sakit penyakit) maupun psikis - misalnya lemah mental, dan sebagainya. Kejahatan manusia yang semakin meningkat sedikit banyak pasti mempengaruhi iman dan pertumbuhan rohani seseorang. Peran Roh Kudus yang senantiasa mengingatkan dapat "dimanfaatkan" untuk membangun jemaat ke arah pertumbuhan rohani yang lebih baik.
2.      Pengertian dari Penginjilan dalam Pertumbuhan Gereja
Kitab yang menjadi pegangan utama mengenai penginjilan ke seluruh dunia dan pertumbuhan Gereja adalah Kitab Kisah Para Rasul. Kita tidak akan salah dalam memahami maksud penulis jika kita menerima ayat pendahuluan sebagai pernyataan tujuan dari kitab ini, serta Kisah Para Rasul 1:8 sebagai tema utama untuk menafsirkan bagian atau perikop pendahuluan tersebut.[8]
John Mott[9] pernah berkata: “Penginjilan itu berarti memperkenalkan Yesus Kristus, sehingga ia dikasihi, dipercayai dan ditaati”. Menurut D.T. Niles, penginjilan itu seumpama menerangkan kepada orang yang hampir mati kelaparan dan dahaga, dimana ia dapat menemukan makanan dan minuman.[10] Singkatnya, penginjilan adalah "memberitakan Kabar Baik tentang Kristus". Penginjilan itu lebih daripada sekadar metode; penginjilan adalah sebuah berita. Berita tentang kasih Allah, tentang dosa manusia, tentang kematian Kristus, tentang penguburan-Nya, dan kebangkitan-Nya. Penginjilan adalah berita tentang pengampunan dosa dari Allah. Penginjilan adalah berita yang menuntut suatu tanggapan menerima Injil itu dengan iman, lalu menjadi murid Yesus. Istilah "penginjilan" mencakup segala usaha untuk memberitakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Tujuannya ialah supaya orang-orang mengerti bahwa Allah menawarkan keselamatan dan supaya mereka menerima keselamatan itu dengan iman, lalu hidup sebagai murid Yesus. Menginjili ialah memberitakan Kabar Baik bahwa Yesus Kristus mati bagi dosa-dosa kita, dan Ia sudah dibangkitkan dari antara orang mati, menurut Kitab Suci.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, penginjilan harus berpusatkan pada Kristus. Seperti yang dikatakan oleh Samuel Boon, bahwa penginjilan bukan hanya sekedar memberitakan tentang Kristus, tetapi tindakan atau kehidupan penginjil juga harus menceritakan Kristus atau Injil itu sendiri. Penginjilan harus mencakup dua aspek baik secara verbal maupun tindakan, karena orang lebih mudah meneladani seseorang yang bertindak dibandingkan dengan yang hanya berbicara saja. Sehingga kehidupan seorang penginjil harus dijaga dengan baik.
Sehingga prinsip-prinsip penginjilan dari Amanat Agung dapat kita lihat bahwa:
Amanat adalah pesan atau perintah.[11] Biasanya amanat diberikan karena orang tersebut akan meninggalkan dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Bisa jadi amanat diberikan waktu seseorang merasa usianya sudah tidak lama lagi di dunia. Sebelum Yesus terangkat ke Sorga, Ia memberi pesan sekaligus perintah kepada murid-muridNya. Perintah ini lebih sering dikenal dengan nama Amanat Agung. Perintah Yesus untuk mewartakan kabar gembira ke semua orang di seluruh dunia. Inilah yang seringkali disebut dengan penginjilan. Ada beberapa prinsip penginjilan yang dapat kita pelajari dari Amanat Agung ini (Mat 28:18-20).

A. Target Jiwa.
Alkitab mencatat bahwa target penginjilan adalah “semua bangsa” (Mat 28:19). Mungkin terlihat mustahil untuk menginjil ke semua bangsa di seluruh dunia ini, karena terlalu banyak jumlah penduduknya. Tetapi dalam Kis 1:8 diingatkan kepada kita untuk memulai dari tempat kita terlebih dahulu. “…kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Yerusalem pada saat itu adalah tempat murid-murid Yesus berada. Artinya dalam menginjil, kita tidak harus selalu ke tempat yang jauh, tetapi dari lingkungan sekitar terlebih dahulu. Tentunya masih banyak orang yang belum percaya di lingkungan kita.
B. Empat perintah (amanat) Tuhan Yesus.
Dalam Amanat Agung terdapat empat kata perintah secara langsung yang Yesus katakan kepada murid-muridNya. Kata ini mengandung makna yang sangat mendalam dalam penginjilan.
Ay.19. Pergilah!
Yesus dengan jelas memberi perintah kepada murid-muridNya untuk pergi menjangkau jiwa. Untuk memenuhi Amanat Agung kita tidak bisa tinggal di dalam zona kenyamanan kita. Tetapi kita harus pergi mencari jiwa yang terhilang. Kita harus pergi memberitakan kabar gembira. Tentunya seperti yang sudah dibahas sebelumnya, itu semua dimulai dari lingkungan sekitar kita. Kita harus membuat tujuan secara spesifik, kemana kita akan memulai penginjilan kita. Mungkin dari pembantu di rumah, atau dari saudara kita yang belum percaya. Kita bisa menjalin persahabatan terlebih dahulu sebelum menguraikan kebenaran firman Tuhan, karena biasanya orang akan dengan mudahnya menolak tawaran kita, apabila belum mengenalnya. Untuk itulah kita harus memulai dengan menjadi sahabatnya terlebih dahulu, sehingga kita bisa juga menyisipkan kebenaran firman Tuhan dalam setiap percakapan.
Ay.19. Jadikanlah semua bangsa murid-Ku!
Perintah yang kedua adalah menjadikan semua bangsa murid Yesus. Yang artinya kita harus memuridkan target jiwa tersebut. Sebelum memuridkan orang lain, tentunya kita juga harus menjadi murid Yesus terlebih dahulu. Untuk itulah pengetahuan tentang Alkitab sangat penting. Kita sebagai mahasiswa Teologi bertanggung jawab untuk mengajar anak-anak Tuhan yang tidak belajar Teologi secara akademis. Sehingga kita bisa memberi pengajaran kepada anak-anak Tuhan yang rindu menginjil melalui pendalaman Alkitab dalam suatu Gereja. Dan setelah mereka belajar menjadi murid, mereka juga bisa memuridkan orang lain. Semua bangsa bukan pekerjaan yang mudah, tetapi dengan bantuan jemaat Tuhan yang rindu melayani, pasti akan mempengaruhi penginjilan kita.
Ay.19. Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus!
Baptisan air melambangkan kematian kita terhadap dosa, dan bersama dengan Kristus kita dibangkitkan untuk hidup baru (Rom.6:3-4). Kita dilahirkan kembali oleh air dan Roh (Yoh.3:5). Baptisan menandai hidup baru itu dan bahwa kita dibersihkan dari dosa (1Ptr.3:21). Maka makna baptisan adalah tindakan iman bahwa kehidupan lama dengan seluruh dosa kita dikuburkan bersama kematian dan penguburan Yesus Kristus Tuhan dan dibangkitkan bersama dengan Kristus Yesus oleh kemuliaan Allah, dan memperoleh hidup baru didalam Yesus Kristus.
Perintah ketiga adalah perintah untuk membaptis. Apabila Tuhan Yesus menyempatkan diri untuk memberi pesan sebelum naik ke sorga berarti hal ini sangat penting bagi kehidupan orang percaya. Baptisan sangat penting, karena apabila baptisan tidak penting, maka tidak mungkin Yesus yang tidak berdosa (Luk 1:35; Ibr 4:15; 1Yoh 3:5) menyempatkan diri meminta diriNya sendiri untuk dibaptis. Berarti Yesus sudah menjadi teladan yang baik dalam hal ini. Untuk itulah kita juga harus mengajar target jiwa kita untuk memberi dirinya dibaptis.
Ay.20. Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu!
Perintah keempat yang Yesus berikan kepada kita adalah perintah untuk mengajar. Pengajaran sangat penting untuk mengkokohkan iman seseorang, untuk itulah kita juga harus mengorbankan waktu, tenaga dan materi untuk mengajar target jiwa kita. Karena pengenalan yang dangkal terhadap Tuhan Yesus Kristus, keraguan yang timbul dan pertanyaan- pertanyaan yang tidak terjawab hanya akan membuat orang-orang tersebut tidak dapat berdiri dengan teguh pada kebenaran yang kudus. Karena itu, perlu ada pengajar-pengajar yang terus meneguhkan dan mengokohkan iman percayanya kepada Tuhan, sehingga mereka dapat terus bertumbuh dan tidak mudah digoyahkan oleh apa pun juga. Tugas kita tidak berhenti sampai tahap pengenalan kepada Yesus Kristus saja, tetapi tugas kita juga harus sampai kepada pengajaran tentang Yesus Kristus supaya mereka tidak tersesat lagi. Untuk itulah kita juga harus selalu belajar Alkitab, sehingga bisa menjadi jawaban bagi mereka yang mempertanyakan iman Kristen.
C. Janji Tuhan Yesus.
Yesus tidak hanya memberi amanat lalu lepas tangan, tetapi Yesus juga berjanji kepada kita bahwa Dia akan menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20). Mungkin kita merasa khawatir karena ketidakmampuan kita dalam menginjil, tetapi dalam ayat 20, Yesus berjanji kepada kita untuk selalu mendampingi kita. Untuk itulah kita harus menginjil sesuai dengan kemampuan kita. Apabila kita bertindak maka Tuhan juga akan melakukan bagianNya. Sehingga kita tidak perlu khawatir lagi, karena Tuhan beserta kita.
3.      Pengertian dalam Pertumbuhan Gereja
Kata pertumbuhan memiliki kata dasar tumbuh, yang artinya adalah timbul (hidup) dan bertambah besar atau sempurna. Sedangkan pertumbuhan itu sendiri adalah perkembangan atau kemajuan.[12] Sedangkan kata Gereja adalah gedung atau rumah tempat berdoa dan melakukan upacara agama Kristen.[13]
Sebagaimana kehidupan tanaman memerlukan pertumbuhan secara alami, maka gereja pun memerlukan pertumbuhan yang berlangsung secara sehat dan alamiah. Suatu tumbuhan dapat bertumbuh dengan baik bila terdapat ketersediaan media dan sari makanan yang cukup. Demikian pula gereja dapat bertumbuh dengan baik bila kehidupan orang-orang percaya di dalamnya memiliki kehidupan yang memaknai kebenaran firman Allah dalam kehidupan sehari-hari sebagai makanan rohani bagi pertumbuhan tersebut. Sehingga dengan demikian pertumbuhan gereja tidak dapat didasarkan pada karya tangan manusia. Megahnya sebuah gedung ibadah, peralatan musik, dan meriahnya suasana perkumpulan bukan sebuah indikator utama dalam sebuah pertumbuhan Gereja. Hal tersebut dilihat secara obyektif bahwa ada orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan, mereka berada di tempat yang sunyi dan besembunyi di balik batu-batu untuk beribadah. Mereka memiliki iman yang tidak kalah dengan orang-orang di perkotaan yang sering kali nyaman dengan kehidupan gereja yang melimpah dalam hal fasilitas. Dalam pertumbuhan gereja yang sehat tidak pula ditentukan dari banyaknya orang dan ramainya orang berkumpul dalam suatu peribadatan yang berlangsung di hari Minggu atau tengah minggu.
Dengan demikian sebaiknya orang Kristen melihat lebih dalam lagi untuk memahami arti pertumbuhan yang sesungguhnya. Keseimbangan antara kualitas dan kuantitas tentu sangatlah penting. Kualitas iman yang baik dari perkumpulan orang percaya harus dapat menarik banyak orang datang kepada Allah. Namun sebuah realitas yang baru harus dipahami bahwa gereja yang bertumbuh harus pula dapat mengembangkan pos-pos pelayanan yang pada akhirnya didewasakan dan terus berkembang. Jadi gereja yang bertumbuh harus dapat menyebar, sesuai dengan Amanat Agung. "Pertumbuhan gereja adalah suatu disiplin ilmu yang menyelidiki sifat-sifat, perluasan, perintisan, pelipatgandaan, fungsi, dan kesejahteraan gereja-gereja Kristen dalam hubungannya dengan penerapan yang efektif dari amanat Allah untuk "menjadikan semua bangsa murid-Nya" (Matius 28:18-20). Para penyelidik pertumbuhan gereja berusaha keras untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip teologi yang abadi dari firman Allah perihal perluasan gereja dengan wawasan-wawasan yang mutakhir di bidang ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu perilaku. Hal di atas dilakukan dengan menggunakan sebagai kerangka acuan awal, landasan-landasan tentang pertumbuhan gereja yang telah dikembangkan oleh Donald McGavran."
Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa hal-hal yang dibahas dalam pertumbuhan gereja tidak secara otomatis berhubungan dengan penginjilan. Perintisan gereja biasanya bukan merupakan bagian dari penginjilan. Proses mendiagnose kesehatan/kesejahteraan suatu gereja biasanya juga bukan termasuk bagian dari penginjilan. Banyak tentang pendewasaan warga jemaat dan penerimaan anggota-anggota baru dibahas dalam pertumbuhan gereja. Hal-hal yang berhubungan dengan karunia- karunia rohani maupun teori-teori dinamika kelompok kecil sangatlah penting bagi pertumbuhan gereja.
Dalam pertumbuhan Gereja juga memiliki prinsip-prinsip yaitu:
Prinsip berarti asas kebenaran yang menjadi dasar berpikir maupun bertindak,[14] berdasarkan definisi yang disampaikan maka prinsip pertumbuhan gereja adalah asas kebenaran yang menjadi dasar berpikir maupun bertindak dalam perkembangan maupun perluasan tubuh Kristus baik dalam kualitas maupun kuantitas.
A. Berpusat pada Tuhan Yesus Kristus.
Alkitab mencatat, “Gereja adalah tubuh Kristus,” (Ef 1:23; 4:12-16 dan Kol 1:24). “Tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan” (Kis 2:47). Jelas sekali ayat-ayat ini menerangkan bahwa orang yang diselamatkan (Kualitas yang tidak nampak), tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka (Kuantitas yang nampak). Ini adalah makna pertumbuhan Gereja.
Ide pertumbuhan Gereja bukan berasal dari pikiran manusia, namun dari kehendak Allah sendiri. Tatkala Allah menciptakan manusia, Ia memberi mereka agar mereka berkembang biak memenuhi bumi. (Kej 1:27-28)[15] dan Tuhan Yesus juga memerintahkan murid-muridNya untuk pergi ke ujung bumi untuk memberitakan Injil kepada semua orang, serta membaptisnya (Mat:28:19-20). Maka ide pertumbuhan Gereja adalah berasal dari kehendak Allah sendiri. Karena Allah tidak menghendaki manusia binasa, melainkan menghendaki semua orang diselamatkan dan percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Juru Selamat pribadi dan beroleh hidup yang kekal (IIPet 3:9; Yoh 3:16). Sehingga pertumbuhan Gereja berpusat kepada Tuhan Yesus Kristus bukan kepada manusia.
B. Pertumbuhan Gereja dan Pekerjaan Roh Kudus.
Gereja bertumbuh bersandarkan pada Roh Kudus (Kis 2:37-47), seperti yang telah dikatakan oleh Alkitab bahwa Roh Kudus di curahkan pada hari pentakosta. Setelah peristiwa pentakosta pertumbuhan Gereja pun menjadi nyata, Alkitab mencatat bahwa “Allah mulai menambahkan jumlah mereka” (Kis 2:47), dari sini nyata bahwa pertumbuhan gereja itu telah terjadi sebagaimana relasi ketritunggalan Allah, pekerjaan Roh Kudus adalah sebagai pemelihara, penghibur. Sebagaimana Gereja yang dipimpin oleh Roh Kudus harus menjadi saksi yang sempurna bagi Tuhan Yesus, sehingga Gereja menjadi jawaban bagi dunia. Alkitab mengajarkan sebagai berikut, Kita harus menerima pengajaran Roh Kudus tentang seluruh kebenaran (Yoh 14:26), taat kepada bimbingan Roh Kudus, masuk dalam segala kebenaran (Yoh 14:26), taat pada perintah Roh Kudus, menjalankan segala kebenaran (Rom 8:5-11), menerima teguran Roh Kudus, bertobat dari dosa (Wah 2:3), menyerahkan tubuh kita supaya di penuhi oleh Roh Kudus menjadi bait Allah (1 Kor 3:16-17; 6:19-20).
C. Pertumbuhan Gereja dan Tanggung Jawab Jemaat.
Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Maha Kuasa, Dia mempunyai kekuasaan yang mutlak dapat menjadikan segala sesuatu tanpa bantuan manusia. Misalnya dalam penciptaan langit, bumi dan segala isinya (Kej 1:2; Maz 33:6,9). Tapi Tuhan juga mau manusia ambil bagian dalam pekerjaanNya, khususnya dalam penyelamatan manusia. Misalnya Dia memerintahkan nabi Nuh membuat bahtera untuk menyelamatkan dirinya dan seisi rumahnya (Kej 6:8). Sebenarnya Allah tidak perlu nabi Nuh untuk membuat bahtera dengan kekuasanNya, Allah sanggup mengerjakan sendiri. Tetapi Allah menghendaki nabi Nuh bertanggung jawab juga dalam pekerjaan penyelamatan ini. Dan pada akhirnya memang Nuh dan sekeluarga diselamatkan, dan itu bukan karena jasanya sendiri, tetapi berdasarkan pada firman Allah, nabi Nuh menuaikan kewajibannya menurut apa yang ia harus dan dapat lakukan.
Ada beberapa  kebenaran pertumbuhan gereja dan tanggung jawab anggota jemaat, yaitu jemaat mempunyai tanggung jawab untuk memperluaskan Injil, anggota jemaat bertanggung jawab untuk bersaksi, anggota jemaat bertanggung jawab untuk memperhatikan sesamanya, anggota jemaat bertanggung jawab untuk menabur, dan anggota jemaat bertanggung jawab untuk mempergunakan karunianya.[16] Tujuan Tuhan ialah agar manusia ikut bertanggung jawab dalam pekerjaan Tuhan Yesus, dan dalam bekerjasama dengan Tuhan dapat menikmati kuasa dan kenyataan hidup kekal.
Pertumbuhan gereja merupakan kehendak Allah sehingga berbagai upaya dalam pertumbuhan gereja harus berpusat pada Tuhan Yesus Kristus. Pertumbuhan gereja juga bersandarkan pada Roh Kudus yang akan memimpin dan memberikan pertumbuhan tersebut. Selain Allah Tritunggal, manusia juga terlibat dalam mitra kerja Allah untuk pertumbuhan gerejaNya. Sehingga setiap warga jemaat diwajibkan untuk ambil bagian dalam pertumbuhan gereja.
Korelasi pertumbuhan gereja dengan penginjilan yaitu:
Sejarah gereja mencatat bahwa pertumbuhan gereja secara kualitas maupun kuantitas ada karena penginjilan. Ini dapat dibuktikan dari catatan-catatan yang terdapat dalam kitab Perjanjian Baru khususnya kitab Kisah Para Rasul. Berikut ini bukti-bukti penginjilan yang dicatat oleh kitab Kisah Para Rasul:
1.      Alkitab mencatat bahwa sejarah kelahiran Gereja dimulai setelah kejadian pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Setelah kejadian itu, Petrus berkhotbah (penginjilan) dan orang-orang yang menerima firman itu meminta dirinya untuk dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa (pertumbuhan Gereja). Lalu mereka membentuk persekutuan dan bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, serta berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, seperti yang biasanya Yesus lakukan. Kis 2:41-42.
2.      Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak (penginjilan), mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. Orang-orang itu menjadi sangat marah lalu mereka ditangkap. Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran Petrus dan Yohanes, banyak orang yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki (pertumbuhan Gereja). Kis 4:1-4.
3.      Para rasul memilih pemimpin-pemimpin untuk menolong mereka mengatur kehidupan jemaat perdana. Tujuh orang dipilih untuk melayani orang miskin. Setelah itu firman Tuhan semakin tersebar (penginjilan), dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak, juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya (pertumbuhan Gereja). Kis 6:1-7.
4.      Filipus memberitakan firman sampai ke kota Samaria (penginjilan), banyak orang yang yang dengan bulat hati menerima firman itu. Dan mereka yang percaya, memberi diri untuk dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk simon tukang sihir yang dari dulu melakukan sihir di kota itu. Sesudah dibaptis, Simon senantiasa bersama-sama dengan Filipus (pertumbuhan Gereja). Kis 8:4-13.
5.      Rasul Paulus serta teman-temannya penginjilan ke daerah-daerah di luar Yerusalem. Alkitab mencatat beberapa nama dari jemaat di luar Yerusalem hasil penginjilan tersebut, antara lain adalah jemaat di Ikonium Listra (Kis 13: 43, 48), jemaat di Antiokia (Kis 14:21), jemaat di Filipi (Kis 16:13,14), jemaat di Tesalonika yang terdiri dari orang-orang Yunani (Kis 17: 1-4).
Sejarah gereja sesudah dunia Perjanjian Baru juga memberikan bukti-bukti penting bagaimana peranan penginjilan dalam pertumbuhan Gereja. Khususnya di Indonesia, Pertumbuhan Gereja di negeri ini dapat berdiri karena penginjilan yang dilakukan oleh para penginjil dari Eropa yang bernaung di Nederlands Zendeling Genootscap (N.Z.G.), antara lain di Maluku oleh Yosef Kam.[17] Di tanah Batak yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) pada tahun 1862 oleh Ingwer Ludwig Nomensen.[18]
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa ada korelasi[19] antara pertumbuhan Gereja dengan penginjilan. Kaitannya sangat erat sekali, karena Gereja bertumbuh secara kualitas dan kuantitas, salah satunya disebabkan adanya penginjilan dalam Gereja tersebut. Penginjilan sebagai salah satu tugas esensial[20] Gereja mempunyai peranan penting dalam kehidupan Gereja. Gereja Tuhan di seluruh belahan bumi ini mulai dari perkotaan sampai dengan ke pedalaman bertumbuh karena penginjilan.
















BAB III
IMPLIKASI DALAM PELAYANAN,
PENGEMBALAAN, PENGINJILAN DAN MISI
Dalam pelayanan pengembalaan para gembala harus selalu mengajarkan Roh Kudus kepada jemaat Tuhan, agar mereka semua memahami makna oknum Allah yang ketiga ini, meminta kepada Tuhan untuk dipenuhiNya, dan menggunakan karunia-karunia mereka untuk bersama-sama bertumbuh dalam iman, dan memancarkan kasih Kristus kepada sesama mereka, melalui kuasa yang diberikan oleh RohNya. Bahasa Roh dan nubuat, tidak akan lenyap sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali. Ini berarti, sementara menantikan kedatangan-Nya, Roh Kudus akan tetap berkarya di dalam dan melalui mereka yang terbuka untuk dipakai-Nya. Para pelayan penggembalaan harus selalu bersandar kepada Roh Kudus, yang sanggup membuat seseorang menerima Kristus, lahir baru, dipulihkan, dan berjalan sesuai dengan firman Tuhan.[21]
Begitu juga alam penginjilan dan misi kita dapat menjalini persahabatan terlebih dahulu sebelum menguraikan kebenaran firman Tuhan, karena biasanya orang akan dengan mudahnya menolak tawaran kita, apabila belum mengenalnya. Untuk itulah kita harus memulai dengan menjadi sahabatnya terlebih dahulu, sehingga kita bisa juga menyisipkan kebenaran firman Tuhan dalam setiap percakapan. Dan juga kita bisa memberi pengajaran kepada anak-anak Tuhan yang rindu menginjil melalui pendalaman Alkitab dalam suatu Gereja. Dan setelah mereka belajar menjadi murid, mereka juga bisa memuridkan orang lain. Semua bangsa bukan pekerjaan yang mudah, tetapi dengan bantuan jemaat Tuhan yang rindu melayani, pasti akan mempengaruhi penginjilan kita. Setelah itu kita juga membaptiskan dan mengajarkan kepada setiap orang, setiap suku bangsa dibumi tentang kasih Yesus yang tidak ingin ada satupun dari umat-Nya yang terhilang dari kawananannya




BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Saat ini, gereja kembali mengalami penambahan anggota secara besar-besaran. Adalah menjadi suatu pertanyaan yang besar pada diri kita yaitu Bagaimana kita dapat menguatkan momentum dari gerakan-gerakan besar dan benar-benar membawa umat ke dalam hidup yang benar dalam Kristus dan bukan sekedar berpindah agama?
Jawaban yang sederhana ialah bahwa baik penginjilan, berdirinya gereja dan pertumbuhan gereja harus berorientasi pada Alkitab. Satu-satunya jawaban yang bisa diandalkan ialah berupaya kembali pada prinsip-prinsip dan kebiasaan-kebiasaan yang digambarkan dalam Kitab Kisah Para Rasul.
Sebuah Gereja bertumbuh maksimal, jika dengan giat menjalankan fungsinya dalam penginjilan yang intensif dan ekstensif.
Bersifat ekstensif : Menjangkau semua kelompok dan orang dalam komunitas itu dan semua bangsa di bumi.
Bersifat Intensif : Menyentuh semua fase pengalaman manusia dan menundukkan seluruh kehidupan dibawah Kristus.
Akhirnya penginjilan harus bersifat terus-menerus, bukan sporadic. Penginjilan harus denyut hidup serta gaya hidup dari seluruh Gereja. Peningkatan kualitas penginjilan akan sangat baik bagi pertumbuhan Gereja, dan setelah Gereja bertumbuh secara kuantitas bertambah, jangan terjebak dengan urusan ke-organisasian Gereja yang akhirnya akan mematikan kobaran Api Roh Kudus dalam diri Jemaat hanya karena merasa gereja sudah menjadi besar sehingga menjadi lupa bahwa bukan karena Organisasi Gerejanya yang membuat gereja itu bertumbuh tetapi Firman Allah yang hidup dan terus berkobar di dalam diri para Jemaat sampai mengalami tranformasi yang dashyat dan terus meningkat. Sehingga pertumbuhan tersebut dapat mencapai apa yang diinginkan Oleh Kristus.


DAFTAR PUSTAKA

ALKITAB
Conterius, Wilhem Djulei. Misiologi dan Misi Gereja Milenium Baru.  Flores : 2001  Penerbit Nusa Indah.
Woga, Edmund. Dasar-Dasar Misiologi. Yogyakarta : 2002, Kanisius.
Graham, Billy. Beritakan Injil. Bandung : 1992, Yayasan Baptis Indonesia.
Stott. John, Satu Umat . Malang : 1990,  Seminary Alkitab Asia Tenggara.
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Bosch, D. J. Transformasi Misi Kristen. ( Jakasrta : 1997, Gunung Mulia.
Gerber, Vergil. Pedoman Pertumbuhan Gereja/Penginjilan. Bandung : 1982 , Penerbit Kalam Hidup.
Tanibemas, Purnawan Pertumbuhan Gereja dan Strategi Penginjilan. Surabaya : 1997. YAKIN.
Wongso, Peter Tugas Gereja Dan Misi Masa Kini, Malang : 1996, Seminary Alkitab Asia Tenggara
Artanto, Widi. Menjadi Gereja Misioner Dalam Konteks Indonesia Yogyakarta : 1997. Penerbit Kanisius.
Ukur, Fridolin. TuaianNya Sungguh Banyak. Jakarta : 2002. Gunung Mulia.





[1] ALKITAB
[2] Salah satu perkataan Pdt. Stephen Tong https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=168163349946209&id=82233261236. Diambil pada Jumat 24 Oktober 2014 pukul 12:11
[3] Wilhem Djulei Conterius,  Misiologi dan Misi Gereja Milenium Baru ( Flores : Penerbit Nusa Indah, 2001 ), hlm. 13.
[4] Edmund Woga, Dasar-Dasar Misiologi ( Yogyakarta : Kanisius, 2002 ), hlm. 15.

[5] Bdk. Billy Graham, Beritakan Injil, ( Bandung : Yayasan Baptis Indonesia 1992 ) hal, 17
[6] http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=1054&res=jpz diambil pada Sabtu 25 Oktober 2014, pukul 16:15

[7] http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=1054&res=jpz diambil pada Sabtu 25 Oktober 2014, pukul 16:15

[8] George W. Peters, Teologi Pertumbuhan Gereja  (Malang:Gandum Mas, 2002), hlm. 21.
[9] John Raleigh Mott adalah seorang tokoh penginjilan di kalangan mahasiswa di berbagai universitas di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Mott dikenal juga sebagai tokoh ekumene dunia karena turut berperan dalam pembentukan "Dewan Gereja se-Dunia" (World Church Organization). Lihat. Wikipedia Ensiklopedia Bebas. John Mott, in http://id.wikipedia.org/wiki/John_Mott, 23 Oktober 2014
[10] http://www.scribd.com/doc/57935490/67/b-Arti-Penginjilan

[11] Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI v1.1. Amanat.
[12] Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI v1.1. Tumbuh.
[13] Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI v1.1. Gereja.
[14] Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI v1.1. Prinsip.
[15] Dr. Peter Wongso, Tugas Gereja Dan Misi Masa Kini  (Malang:Departemen Literatur SAAT, 1999), hlm. 97.
[16] Ibid, hlm. 106-109.
[17] H. Berkhof  & L. H. Enklaar, Sejarah Gereja (Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1990), hlm. 314.

[18] Ibid. hlm. 316.
[19]Ko·re·la·si /korélasi/ n hubungan timbal balik atau sebab akibat. Korelasi. In Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI v1.1. 
[20] Esen·si·al /ésénsial/ a perlu sekali; mendasar; hakiki. Esensial. In Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI v1.1. 
[21] http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=1054&res=jpz diambil pada Sabtu 25 Oktober 2014, pukul 16:15

Studi Genre, Bentuk dan Skema Kitab Ulangan




Tugas                                       : Studi Genre, Bentuk dan Skema Kitab Ulangan
Mata Kuliah                            : Eksegese Perjanjian Lama
Dosen pengampu                    : Dr. Harianto D.Th


Genre, Bentuk, dan Skema
Genre
Bentuk sastra (genre) dari Kitab Ulangan ini adalah kitab-kitab hukum karena kitab ini berisikan campuran antara hukum agama dan hukum sipil, juga beberapa kisah yang lebih tepat disebut ssastra cerita sejarah. Ulangan merupakan pangkal pokok dalam kehidupan Israel kuno. Isinya menyimpan tradisi yang kuno pada waktu pemunculannya. Beberapa tradisi hukum yang diturunkan oleh aliran Ulangan mempunyai asal usul pada zaman pra Israel dari Timur Tengah kuno. Klausule dokumen yang paling mungkin dalam Ulangan adalah perintah bahwa sesudah umat Israel sampai di negeri Perjanjian mereka harus mendirikan batu-batu besar dan menuliskan hukum Taurat padanya (27:2-3; bdg. Yos. 8:30-31). Pasal 31-32 adalah bagian saksi. Musa diperintahkan untuk menggubah sebuah nyanyian yang berfungsi sebagai saksi (31:19-22; bdg. 32:39-43, dimana nyanyian tersebut meliputi sumpah Tuhan); baik Kitab Taurat maupun langit dan bumu dipanggil sebagai saksi (31:26-28). Berkat-berkat dan kutuk terdapat di pasal 28. Kitab Ulangan sebagai sebuah dokumen resmi yang mengesahkan suatu hubungan formal antara Tuhan dan Israel, dengan Tuhan sebagai raja yang berkuasa dan Israel sebagai raja bawahan. Fakta raja bawahan di Timur Dekat kuno memberikan pada kita latar belakang sastra untuk memahami kitab Ulangan. Fakta raja bahawan di Timur Dekat kuno memberikan juga pada kita latar belakang sastra untuk memahami kitab Ulangan. Fakta yang baku meliputi (1) prakata yang memperkenalkan pembicara, biasanya raja yang berkuasa, pemrakarsa pakta itu; (2) Prolog sejarah yang menekankan kebajikan dan kekuasaan penguasa itu; (3) ketetapan-ketetapan yang memerincikan apa yang diharapkan dari raja bawahan itu; (4) pernyataan mengenai pengunjukan dokumen, tempat penyimpanan atau syarat-syarat untuk dibaca secara berkala; (5) daftar saksi-saksi, biasanya ilah-ilah; dan (6) kutukan atau berkat yang akan dinyatakan oleh ilah-ilah itu sesuai pelaksanaan ketetapan-ketetapan itu. [1] Inti kitab Ulangan dan Kitab-Kitab Sejarah Deuteronomis adalah hubungan kasih antara umat dengan Allah dan dengan sesamanya adalah Kasih Allah. Kasih Allah mendahului segalah tuntutan Allah kepada umat yang nyata dalam berbagai peraturan, ketetapan, dan hukum yang terdapat dalam kitab Ulangan. Allah mengikat perjanjian dengan Israel bukan karena kehebatan atau kebaikan Israel, melainkan semata-mata karena kasih Allah (Ul. 7:7-9). Deuteronomis juga sangat menekankan tauhidnya yang dapat kita baca dalam Ulangan 4:19 dan seterusnya; 6:4. Hukum yang pertama dalam dekalog Ulangan ialah larangan menyembah ilah lain (Ul. 5:6,7). Tauhid dan larangan menyembah ilah lain sangat penting pada zaman Ulangan. Dan juga kitab Ulangan mengenai hukum kewajiban yang harus dilakukan kepada Allah yang telah menyelamatkan, yaitu mengasihi Allah dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan (Ul. 6:5).seorang Begitu juga bagaimana seharusnya seorang raja mewujudkan kasihnya kepada bangsanya, Ia harus memerintah dengan yang benar dan adil, sesuai ketetapan, peraturan, dan hukum Allah (Ul. 17:14-20), bagaimana seorang hakim mengasihi sesamanya, ia harus melakukan peradilan yang benar dan adil (Ul. 16:18-20), ia harus mampu menghapus hutang sesama yang tidak mampu mengembalikan pinjamannya (Ul. 15:1-11). Kewajiban yang harus dilakukan umat adalah semua yang diatur dalam bagian Kitab Ulangan yang disebut hukum Deuteronomis, terutama yang terdapat dalam Ulangan 12-26 yang diakhiri dengan ucapan berkat kutuk sebagai penutup dari semua tuntutan itu (Ul. 28).[2] 
Kitab Ulangan merupakan salah satu kitab yang paling penting dan berpengaruh di antara kitab-kitab Ibrani. Kitab ini menyajikan pandangan teologis yang mempengaruhi nabi-nabi terdahulu (Yosua, Hakim-Hakim, Samuel, dan Raja-Raja), sekarang dikenal sebagai Sejarah Deuteronomis Israel. Kitab Ulangan juga mempengaruhi sejarah Tawarikh Israel ( Tawarikh, Ezra, dan Nehemia). Penafsiran kembali secara Deuteronomis atas pokok-pokok penting dari hukum kuno dan sejarah Israel menyajikan suatu pola bagi para rabi, yang menerbitkan Misnah dan Talmud. [3] Kitab terakhir dalam Pentateukh ini memperoleh namanya dari kata Yunani deuteronomion touto di Ulangan 17:18, yang berarti “pemberian hukum yang kedua.” Sebenarnya ungkapan ini dalam naskah Ibrani lebih tepat berarti “salinan hukum ini,” tetapi penggunaan yang populer dari “hukum kedua” menghubungkan kitab ini dengan Perjanjian Sinai dari Kitab Keluaran, yang berhubungan erat dengan Kitab Ulangan. Bersama dengan pengulangan Sepuluh Hukum dalam pasal 5, Kitab Ulangan berisi banyak hukum yang sama dengan yang ditemukan dalam Kitab Keluaran, terutama dalam Kitab Perjanjian (Kel. 21-23).
Kitab Ulangan lebih banyak ditulis mengenai struktur kesusasteraan Kitab Ulang daripada tentang salah satu dari keempat Kitab Pentateukh lainnya. Hal ini disebabkan oleh kesamaan-kesamaan yang menggugah rasa ingin tahu antara Kitab Ulangan dengan pakta-pakta Timur Dekat pada zaman purbakala. Garis besar Kitab Ulangan mempunyai kesamaan dengan ciri-ciri utama sebuh pakta, terutama sekali pakta-pakta orang Het pada akhir milenium kedua SM.[4] Yang paling penting untuk memahami struktur kitab ini adalah logika pengorganisasian dari bagian ketetapan-ketetapan. Struktur Kitab Ulangan ini terbagi menjadi tiga unsur; pertama, Kitab Ulangan sebagai suatu kumpulan hukum dan peraturan atau kodeks. Kedua, Kitab Ulangan sebagai suatu naskah perjanjian. Ketiga, Kitab Ulangan sebagai suatu pidato perpisahan Musa. [5] Pada tahun 1979, dalam Kitab Ulangan, dalam artikelnya Stephen Kaufman mengemukakan bahwa ps. 12-26 berhubungan dengan kesepuluh Hukum. [6] Pelayanan Musa sedang mendekati akhir. Untuk membangkutkan kepemimpinan baru dan penaklukan dan pendudukan tanah perjanjian, Musa menasehati bangsa yang telah dia pimpin keluar dari Mesir itu dengan sejumlah nasehat yang bersifat umum. Hal yang sangat penting adalah pesan-pesan Musa yang disampaikan kepada bangsanya; pertama, Musa meninjau ulang sejarah Israel. Dengan terang dan jelas dia menunjukkan bahwa syarat-syarat untuk memperoleh kebaikan YAHWEH adalah ketaatan kepada Hukum Taurat dan kesetiaan kepada YAHWEH dengan sepenuh hati. Kedua, Musa dengan jelas mengingatkan mereka bahwa mereka adalah umat perjanjian YAHWEH. Dia mengulangi kesepuluh perintah dan menunjukkan bahwa ini adalah dasar untuk hidup Kitab Ulangan tidak disajikan sebagai suatu perjanjian. Kitab Ulangan mempergunakan bentuk-bentuk dari tradisi perjanjian, tetapi disajikan sebagai suatu rentetan wajang-wejangan yang diberikan kepada Israel oleh Musa menjelang kematiannya. Ulangan adalah wasiat Musa kepada Israel, yang akan merebut Kanaan dalam waktu dekat. Ini bukan teks perjanjian atau kesepakatan. Kitab ini memang berisikan unsur-unsur bentuk perjanjian, tetapi juga berisikan bahan-bahan yang tidak dapat dimasukan ke dalam bentuk demikian (lih. Ul. 32-34).[7]
Bentuk
Konteks Kultural – Historis Umum
Di Israel, sejarah tidak dipandang hanya sebagai serangkaian peristiwa yang dinilai berkenana dengan sebab dan akibat, tetapi dilihat sebagai tindakan Allah. Sejarah adalah bukti dari pilihan Israel – pelaksanaan rincian pemilihan tersebut diketengahkan dalam pernyataan, “Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Sejarah tidak mengalir secara sembarangan. Tidaklah secara kebetulan atau karena usaha manusia Israel dibawah keluar dari Mesir sesudah empat ratus tahun berada di sana dan dimpin ke negeri yang dijanjikan pada Abraham. Sejarah adalah penyataan dan menuntut tanggapan; itulah sebabnya sejarah sangat penting bagi perjanjian itu. Kenyataan bahwa Allah sudah bertindak dalam sejarah atas nama mereka merupakan panggilan nyaring dan jelas bagi umat Israel untuk menerima pemerintah Allah yang penuh kebajikan. Ditegaskan (Ul. 4) bahwa Israel harus belajar dari sejarah; nasihat ini diulang dalam Perjanjian Baru mengenai penyataan dalamsejarah tentang Allah (Rom. 15:4; I Kor. 10:1-13). Walaupun tangan Allah terlihat dalam seluruh sejarah dan berbagai pelajaran dapat ditarik dari bagian apa saja di sejarah dunia, sejarah Israel adalah unik sebagai suatu wahana yang secara khusus dirancang untuk penyataan diri Allah.[8]  Mengenai Hukum Taurat . Hal ini pasti akan membingungkan orang Israel pada zaman dahulu, karena bagi mereka tidak ada peragaan yang lebih besar dari kasih karunia Allah daripada yang ditunjukkan dalam pemberian hukum Taurat. Di Timur Dekat kuno, dewa-dewa tidak terkenal mantap dalam bertindak. Para pemuja dibiarkan untuk menebak-nebak apa yang dapat menyenangkan dewa merka atau apa yang tidak menyenangkannya, dan ini bisa berubah dari hari ke hari. Kergauan dan ketidaktentuan itu menimbulkan kebingungan yang terus menerus, dan orang hanya bisa mengira-ngira apakah ia berkenan atau tidak dengan cara menilai keberuntungannya setiap hari. Hukum Taurat mengubah itu semua bagi umat Israel. Allah mereka sudah memilih untuk menytakan diri dan memberi tahu pada mereka dengan jelas apa yang Dia harapkan dari mereka. Di Timur Dekat kuno adalah alat masyarkat untuk memerintah diri sendiri; di Israel hukum Taurat adalah penyataan Allah. Di Timur Dekat kuno, pelanggaran hukum adalah pelanggaran terhadap masyarakat; di Israel pelanggaran hukum adalah pelanggaran terhadap Allah. Hukum di Timur Dekat kuno menekankan ketertiban dalam masyarakat; hukum di Israel menekankan perilaku yang benar di pemandangan Allah.[9] Tempat Ibadah yang Sentral. Gagasan satu tempat ibadah di Israel secara simbolis berhubungan dengan konsep satu Allah. Di Timur Dekat kuno kota-kota yang berbeda mempunyai dewa pelindung yang berbeda dengan kuil-kuil yang dibangun untuk menghormati mereka. Oleh karena itu pantaslah bagi Israel, yang hanya mempunyai Allah yang Esa, untuk mempunyai satu rumah ibadah yang sah. Namun, orang dapat menjumpai banyak kuil kepada ilah yang sama di Timur Dekat kuno. Tetapi teologi mengenai kehadiran Allah yang terus-menerus di baitu suci di Yerusalem tidak memeungkinkan adanya lebih dari satu tempat peribadatan. Kehadiran Allah tidak dapat diwakilkan oleh berhala-berhala seperti di agama-agama lain. Juga upacara agamanya harus dilakukan dalam kehadiran Allah. Oleh karena itu sentralisasi penting sekali baik karena alasan-alasan teologi maupun untuk melindungi praktik keagamaan yang ortodoks. Kegagalan untuk melaksnakan sentralisasi itulah yang terus-menerus menghidupkan banyak persoalan keagamaan sebelum pembuangan.[10]
            Dalam geografi dunia fisik dari Perjanjian Lama adalah Timur Dekat kuno, yang sekrarang ini biasa dikenal sebagai Timur Tengah. Kisah-kisah Perjanjian Lama meliputi kawasan Mesopotamia di Timur, Asia Kecil atau Anatolia di Utara, Siro-Palestina dan Mesir di barat, dan semenanjung Arabia di selatan. Negara Irak dan Iran yang sekarang menempati sebagian terbesar dari Mesopotamia kuno, sementara Asia Kecil sekarang ini dikenal sebagai Turki, dan Saudi Arabia menguasahi hampir seluruh semenanjung Arab. Hampir empat perlima bagian dari sejarah Perjanjian Lama terjadi di daerah Siro-Palestina di pantai timur Laut Tengah. Wilayah ini sekrang meliputi negara Siria, Libanon, Yordania, dan Israel.[11] Palestina adalah negeri Palestina dinamai menurut bangsa Filistin (Pelishtim dalam bahasa Ibrani) yang menetap di daerah pantai Laut Tengah dari Yope sampai Gaza sekitar tahun 1300-1200 SM. Sebelum orang Filistin berimigrasi daerah itu dikenal sebagai Kanaan. Nama ini mengandung arti “negeri ungu” dan barangkali nama itu diambil dari bahan pewarna ungu yang dihasilkan oleh orang pribumi dari sejenis kerang-kerangan yang banyak terdapat di sepanjang pantai Mediterania. Palestina sering kali disebut sebagai pusat geografis dan teologis dari dunia purbakala. Negeri ini tidak hanya terletak di persimpangan jalan jalur-jalur perdagangan yang penting pada zaman purbakala, “tanah di antara” benua Afrika, Asia dan Eropa. Juga daerah Yudaisme, Kekristenan dan Islam mengawali keberadaan mereka. Luas negeri itu sekitar 150 mil dari Dan ke Bersyeba (utara-selatan) dan 100 mil dari Laut Tengah ke Sungai Yordan (timur-barat), atau kasarnya seukuran kota New Jersey. Negeri Palestina dengan mudah dalam empat daerah geografis utama yang membujur dari utara ke selatan: daratan pantai, daerah perbuktian tengah, celah Yordan, dan dataran tinggi Trans yordania (bdg. Ul. 1:6-8). Latitudinal utama atau Pembagian georgafis utama Palestina melintang dari timur ke barat berkaitan dengan segi-segi geografis negeri itu dan tapal batas politis dari dua kerajaan Israel yang pecah. Pembagian ini meliputi daerah Galilea di utara, Samaria di daerah utara-tengah Palestina. Yehuda di bagian selatan-tengah Palestina, dataran Negev (atau Padang rumput” kering) di selatan, dan semenanjung Sinai yang membentuk perintang besar antara Palestina dan Mesir.[12] Lembah Yordan adalah Lembah sungai Yordan atau celah Yordan, adalah lembah geologis besar yang mulai di Siria di pegunungan Libanon dan membujur ke selatan sampai ke Teluk Akaba dan Laut Merah. Lembah sungat Yordan yang membentuk perbatasan timur Palestina adalah bagian dari parit geologis yang berigi-rigi. Pada zaman dulu daerah sekitar Danau Galilea berpenduduk sangat padat dan secara intensif diolah dan ditanam dengan memakai irigasi. Lebih jauh lagi ke selatan, lembah sungat itu menyempit dan didapati tumbuh-tumbuhan hinga berupa hutan, tampat tinggal binatang-binatang liar pada masa Perjanjian Lam (bdg. Yer. 49:19; 50:44; Za. 11:3). Sebagian besar wilaya ujung selatan dari lembah sungai ini tidak ada penduduknya, kecuali di tempat sungai Yabok memasuki Yordan dan di Oasisi yang diari sumber-sumber Yerikho. Bukit-bukit tanah liat yang licin dan berlumpur dan tumbuh-tumbuhan yang lebat dan sejajar sepanjang lembah Yordan membuatnya tetap merupakan perintang alam antara Palestina dan dataran tinggi Trans Yordan. Laut mati tidak mempunyai saluran keluar yang alami, dan airnya yang melimpah dengan mineral mengandung kadar garam sampai 30 persen. Tebing-tebing batu kapur yang berjajar sepanjang pantai barat Laut Mati dipenuhi gua-gua yang dipergunakan sebagai tempat persembunyian untuk penyamun, pelarian politik, dan komunitas-komunitas berbagai sekte keagamaan. Di tempat inilah di antara pemandangan gua-gua yang “tandus” ini ditemukan guluang-gulungan naskah Laut Mati atau gulungan-gulungan naskah komunitas Qumran. Penduduk di pinggiran daerah padang gurun yang kering dan terpencil ini menambang endapan-endapan bijih besi dan tembaga yang dijumpai di daerah bukit-bukit di perbatasan Araba, atau terlibat dalam perdagangan dengan kafilah-kafilah yang melintasi daerah itu.[13]
Konteks Kultural – Historis Khusus
Identitas Penulis Kitab
            Ulangan ditulis oleh Musa (31:9, 24-26; bd 4:44-46; 29:1) dan diwariskan kepada Israel sebagai dokumen perjanjian untuk dibacakan seluruhnya di hadaoan seluruh bangsa setiap tujuh tahun (31:10-13). Musa mungkin menyelesaikan penulisan kitab ini menjelang kematiannya sekitar tahun 1405 SM.[14] Tradisi orang Yahudi dan tradisi orang Samaria setuju bahwa kitab Ulangan dikarang oleh Musa. Dalam Neh. 8:2 disebutkan “kitab Taurat Musa”, yang dibacakan oleh Ezra kepada orang-orang Israel sebagaimana diperintahkan oleh Musa dalam Ulangan 31:9-13. Kemudian, dalam Ul. 1:5 dikatakan bahwa Musa menguraikan hukum Taurat, lalu menuliskannya dan menyerahkannya kepada orang-orang Lewi (31:9). Selain itu, kitab Ulangan dikutip lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru, dan sering kali penulis-penulis Perjanjian Baru disamping mengutip juga mengatakan bahwa kitab itu dikarang oleh Musa. [15]
            Para nabi dianggap bertanggung jawab atas Kitab Ulangan ini, karena pada suatu saat segala sesuatu dari Alkitab Ibrani yang bercirikan etik teologis dianggap berasal dari lingkungan pada nabi. Tetapi, Kitab Ulangan tidaklah memperlakukan para nabi dengan baik (lih. Tafsiran Ul. 18:9-22) Penafsir lain mengatakan bahwa Kitab Ulangan mencerminkan khotbah para Lewi. Sebenarnya tidak ada contoh khotbah Lewi dalam Alkitab, maka tidak mungkin mengatakan bahwa Kitab Ulangan adalah hasil dari kegiatan semacam itu. Para bijak di Israel pernah juga dianggap sebagai penulis Kitab Ulangan ini, tetapi mereka tidak pernah muncul dalam kitab yang mengadaikan bahwa mereka yang menyusun dan menerbitkan kitab ini bagi bangsa Israel sebagai pola hidup mereka.[16] Satu alasan yang menyebabkan para pakar tidak mempertahankan hubungan Musa dengan kitab ini adalah karena kitab Ulangan mengajarkan bahwa penyembahan harus dipusatkan pada satu tempat ibadah (Ul. 12). Keberatan-keberatan ini menyebabkan mereka menolak kemungkinan bahwa berdasarkan logika Musa sudah mengantisipasi soal-soal yang berhubungan dengan pemerintahan raja yang kelak harus ditangani. Kita melihat tidak ada alasan untuk menolak bahwa kitab Ulngan ini memang merupakan catatan yang akurat dari perkataan Musa, tetapi tidaklah perlu bahwa Musa sendiri yang menuliskan perkataan itu, tetapi sifat dari kitab ini dan kesatuannya memberi kesan bahwa kitab itu ditulis tidak lama setelah perkataan itu disampaikan. [17] Teori Hipotesis dokumen, pandangan bahwa Pentateukh disusun dengan memakai beberapa dokumen, dan teori  Deuteronomistic History (teori bahwa penulis yang tidak dikenal telah menyusun kitab Ulangan).[18]
Latar Belakang Penulisan Kitab
            Kitab Ulangan seluruhnya berasal sumber Deuteronomis. Sifat dan ciri tulisan Deuteronomis sekedar mau mengulangi apa yang sudah diceritakan dan disebutkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Tetapi penulis sumber Deuteronomis telah mengambil alih apa yang sudah ada sebelumnya dan menyusunnya kembali dalam konteks pergumulan umat zaman Deuteronomis. Dan semua ciri serta sifat dari sumber Deuteronomis ada dalam Kitab Ulangani.[19] Kitab ini berisi amanat perpisahan Musa yang dalamnya ia mengulas kembali dan memperbaharui perjanjian Allah dengan Israel demi angkatan Israel yang baru. Mereka kini sudah mencapai akhir dari pengembaraan di padang gurun dan siap masuk ke Kanaan. Sebagian besar angkata ini tidak mengingat Paskah yang pertama, penyeberangan Laut merah, atau pemberian Hukum di Gunung Sinai. Mereka memerlukan pengishan kembali yang bersemangat mengenai perjanjian, hukum Taurat, dan kesetiaan Allah, dan suatu pernyataan baru mengenai berbagai berkat yang menyet=rtai ketaatan dan kutuk  yang menyertai ketidaktaatan. [20] Selama satu generasi (40tahun) orang Israel telah mengembara di Padang gurun Sin. Sekarang tiba saatnya mereka akan mencapai tujuan utama sejak keluar dari Mesir, yaitu masuk tanah Kanaan. Akan tetapi, mereka akan menghadapi juga banyak godaan yang keras dan pencobaan yang berat di tanah baru itu, dan pemimpin baru mereka (Yosua) belum membuktikan kesanggupannya. Oleh karena itu Musa menyampaikankan beberapa khotbah kepada mereka. [21] Di kitab Ulangan, Tuhan diperkenalkan sebagai raja yang bekuasa dan pemrakarsa perjanjian. Prolog sejarah mengisahkan kembali bagaimana Tuhan sudah membwa kaum Israel keluar dari Mesir, menyatakan diri-Nya di Sinai, dan membawa mereka ke negeri yang sudah dinjanjikan-Nya pada Abraham, nenek motang mereka. Ketatapan-ketetapan memenuhi sebagian besar kitab ini. [22]
Waktu dan Alamat Penulisan Kitab
Musa mungkin menyelesaikan penulisan kitab ini menjelang kematiannya sekitar tahun 1405 SM. Bahwa Musa menulis kitab ini ditegaskan oleh (1) Pentateukh Samaria dan Yahudi, (2) para penulis PL (mis. Yos. 1:7; 1Raj 2:3; 2Raj 14:6; Ezr. 3:2; Neh. 1:8-9; Dan 9:11), (3) Yesus (Mat. 19:7-9; Yoh. 5:45-47) dan penulis PB yang lain (mis. Kis. 3:22-23; Rm. 10:19), (4) para cendekiawan Kristen zaman dahulu, (5) cendekiawan konservativ masa kini, dan (6) bukti di dalam kitab Ulangan sendiri (mis. Kesamaan sususnan dengan bentuk-bentuk perjanjian yang ditulis pada abad ke-15 SM). [23] 
Teori Hipotesis dokumen, pandangan bahwa Pentateukh disusun dengan memakai beberapa dokumen, dan teori  Deuteronomistic History. Kedua teori tersebut menentukan tanggal penulisan Kitab Ulangan pada bagian akhir abad ketuju SM dan memandangnya sebagai dokumen dasar untuk pembaharuan yang dilakukan oleh Raja Yosia pada tahun 622. Kendati fungsinya dalam pembaharuan oleh Raja Yosia tak perlu dipersolakan lagi, makin banyak orang berpendapat bahwa kitab Ulangan berisi banyak bahan yang menunjuk pada masa yang lebih awal dari abad ketujuh.[24] Lebih dari lima puluh pakta seperti itu sudah ditemukan di Timur Dekat kuni yang waktunya berkisar dari pertengahan milenium-ketiga sampai pada pertengahan milenium-pertama SM. [25] Dengan memperhatikan bukti, tidak mungkin menerima pendapat beberapa sarjana bahwa kitab ini dikarang pada masa pemerintahan Yosia, kira-kira 600 tahun sesudah Musa.[26] Karena itu, Kitab Ulangan kemungkinan ditulis pada abad ke-8 SM. Menurut beberapa ahli kitab ini ditulis pada zaman pemerintahan Raja Hizkia. Ada pula yang mengatakan bahwa Kitab Ulangan ditulis di Israel Utara. Ketika Kerajaan Israel Utara dihancurkan oleh Asyur pada tahun 721 SM (band. E. W. Nicholson, Deuteronomy and Tradition. hal 58-63) gulungan Kitab Ulangan dibawa ke Kerajaan Selatan/ Yehuda dan disembunyikan di Bait Allah. Gulungan itulah ditemukan pada imam ketika diadakan renovasi Bait Allah di Yerusalem pada masa pemerintahan Raja Yosia. Raja Yosia mengadakan reformasi pada tahun 622 SM.[27]
Tujuan Penulisan Kitab
             Sebelum menyerahkan kepemimpinan kepada Yosua untuk penaklukan Kanaan, maksud Musa mula-mula ialah untuk menasihati dan mengarahkan angkatan Israel yang baru tentang (1) perbuatan-perbuatan perkasa dan janji-janji Allah, (2) kewajiban mereka bertalian dengan perjanjian untuk beriman dan taat, dan (3) perlunya mereka menyerahkan diri untuk takut kepada Tuhan, hidup di dalam kehendak-Nya, serta mengasihi dan menghormati Dia dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan mereka. [28] Ketika Musa berhenti, ia mempercayakan kepemimpinan kepada Yosua dan pelayanan pengajarannya kepada para imam. Musa sekali lagi menceritakan kelahiran dan masa kanak-kanan bangsa itu, yang telah dipimpinnya keluar dari perbudakan Mesir, menuju perbatasan Kanaan dan, mengucapkan berkat untuk masing-masing suku. [29] Kitab Ulangan dimaksudkan untuk merumuskan ketaatan dan dengan demikian mendorong ketataan dan memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai perjanjian yang diadakan antara Israel dengan Tuhan di Sanai. Tujuan dari bagian ketetapan-ketetapan adalah untuk menghadapi semangat hukum. Pesan dari kitab ini adalah pesan hukum dan pesan perjanjian.[30] Musa mengajurkan umat Israel agar beriman dan taat, memperingatkan mereka tentang bahaya penyembahan berhala dan kemurtadan, dan tentang hukuman yang akan menimpa bangsa yang meninggalkan prinsip-prinsip Perjanjian Sinai. Sekaligus dia juga menjanjikan banyak berkat dari Tuhan andaikata Israel tetap setia melakukan tugasnya.[31]
Ciri Khas Penulisan Kitab
            Empat ciri khas menandai Ulangan. (1) Ulangan menyediakan bagi angkatan Israel yang baru (yang sebentar lagi akan masuk Kanaan) landasan dan motivasi yang diperlukan untuk mewariskan tanah yang dijanjikan dengan memusatkan perhatian kepada tabiat Allah dan perjanjian-Nya dengan Israel. (2) Ulangan merupakan “Kitab Hukum Kedua” karena didalamnya Musa, pemimpin Israel yang berudia 120 tahun, menyatakan kembali dan merangkun (dalam bentuk khotbah) sabda Tuhan yang terdapat di dalam keempat kitab sebelumnya. (3) Ulangan merupakan “Kitab Kenangan”. Nasihat yang khas dari Ulangan ialah, “Ingatlah ... dan jangan melupakan.” Daripada mengemukaka usaha untuk mencari “kebenaran baru”, Ulangan menasihati Israel untuk mempertahankan dan menaati kebenaran yang sudah dinyatakan Allah sebelumnya dalam Firman-Nya yang mutlak dan tidak berubah. (4) Dasar pikiran yang penting dalam kitab ini adalah rumusan “imam-tambah-ketaatan”. Israel dipanggil untuk mempercayai Allah dengan segenap jiwa raga dan menaati perintah-perintah-Nya dengan tekun. Iman- tambah-ketaatan akan memungkinkan mereka mewarisi janji-janji berkat Allah yang penuh; ketiadaan iman dan ketaatan, pada pihak lain, akan mengakibatkan kegagalan dan hukuman. [32]
Pemahaman terhadap Konteks Dekat
Khotbah yang kedua dari Musa yang menentukan mengenai ketentuan-ketentuan Perjanjian. Musa mengakhiri uraian ini dengan anjuran agar Israel taat atau sebagai nasihat dalam penutup berdasarkan perjanjian yang telah dibuat antara Tuhan dengan mereka. Bagian penutup ini mengingatkan orang Israel akan kewajiban-kewajiban dan hak-hak istimewa mereka dalam hubungan perjanjian. Pasal 16 Hari ini. Pelaksanaan janji-janji ini menuntut ketaatan sepenuhnya dari pihak Israel. Bnd Ibr. 4:7. Pasal 17 Menerima Janji. Barangkali ini adalah istilah hukum, yang dihubungkan dengan pembebanan kewajiban-kewajiban berdasarkan perjanjian, dan barangkali dikaitkan dengan beberapa tanda persetujuan umat yang tidak disebutkan dengan cara apapun. Pasal 19 Dia ata segala bangsa. Upah gemilang bagi Israel yang setia dan taat. Bnd 28:10.
Skema
            Kitab Ulangan dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian besar yaitu: Pertama, Khotbah yang pertama (pas. 1:1-4:43) memuat pokok perbuatan-perbuatan Allah. Pimpinan. Tuntutan Tuhan diikhtisarkan (pas. 1-3), dan anjuran agar umat Israel mentaati perintah-perintah Tuhan dan mengingat segala kebaikan-Nya kepada mereka sampai saat itu (pas. 4). Kedua, Khotbah yang kedua (pas. 4:44-26:19) memuat pokok-pokok Hukum Allah. Undang-undang Dasar (pas. 5-11), kesepuluh Firman diulangi lagi dengan uraian khusus tentang hal kesetiaan kepada Tuhan. Selanjutnya ketentuan-ketentuan Perjanjian (pas. 12-26). Ketiga, Khotbah yang ketiga (pas. 27-30) memuat pokok-pokok Perjanjian dengan Allah. Setelah semua perintah/undang-undang Tuhan dicatat, Perjanjian antara Israel dengan Tuhan diperbaharui (27:1-10). Kemenangan, damai sejahtera dan kesuburan tanah sehingga berhasil dan kekayaan (28:1-14), tetapi jika mereka tidak setia, ada beberapa kutukan menimpa mereka (28:15-68) dam Musa memanggil Israel kepada suatu penyerahan/pengabdian diri kepada Tuhan (pas. 29-30). Keempat, Kejadian-kejadian akhir (pas. 31-34), memuat amanat Musa kepada Yosua dan kepada orang-orang Lewi (pas. 31), nyanyian Musa (pas.32), Musa memberkati seluruh suku (pas.33) dan Musa meninggal (pas. 34).[33]





[1] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1998), 228.
[2] Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama (Bandung: Bina Media Informasi), 113-114.
[3] Dianne Bergant & Robert J. Kanis, Lembaga Biblika Indonesia Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, ( Yogjakarta: Kanisius, )197.
[4]  Herbert Wolf, Pengenalam Pentateukh (Malang: Gandum Mas, 1998), 291.
[5] I.J. Cairns, Tafsiran Alkitab-Kitab Ulangan Ps. I-II (Jakarta: Gunung Mulia, 2003), 4.
[6] S. Kaufman, The Structure of Deutoronomic Law, Maarav 1,2 (1978), 105-108.
[7] Dianne Bergant & Robert J. Kanis, Lembaga Biblika Indonesia Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, ( Yogjakarta: Kanisius, ), 198.
[8] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1998), 237
[9] Ibid, 238
[10] Ibid, 239.
[11] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1998), 35.
[12] Ibid, 43
[13] Ibid, 46
[14] Donald C. Stamps, Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan,( Malang: Gandum Mas, 2010), 273.
[15] Denis Green, Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1984), 68.
[16] Dianne Bergant & Robert J. Kanis, Lembaga Biblika Indonesia Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, ( Yogjakarta: Kanisius, ), 198.
[17] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1998), 226.
[18]Ibid, 225.
[19] Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama (Bandung: Bina Media Informasi), 110.
[20] Donald C. Stamps, Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan,( Malang: Gandum Mas, 2010), 273.
[21] Denis Green, Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1984), 68.
[22] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1998), 228.
[23] Donald C. Stamps, Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan,( Malang: Gandum Mas, 2010), 274.
[24]Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1998), 225.
[25] Ibid, 226.
[26] Denis Green, Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1984), 68.
[27] Barnabas Ludji, Pemahaman Dasar Perjanjian Lama (Bandung: Bina Media Informasi),111.
[28]Donald C. Stamps, Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan,( Malang: Gandum Mas, 2010), 274.
[29] Samuel  J. Schultz. Survei Perjanjian Lama Bagian I Kejadian-Ester (Jakarta: Evangelical Training Association), 54.
[30] Andrew E. Hill & John H. Walton, Survei Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1998), 229-230.
[31] Denis Green, Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1984), 69.
[32] Donald C. Stamps, Alkitab Penuntun: Hidup Berkelimpahan,( Malang: Gandum Mas, 2010), 274.
[33] Denis Green, Pengenalan Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 1984),  70.

Tuesday, September 16, 2014

:)

Ketika orang yang kamu sayang pergi berlahan-lahan, kadang kamu akan membenci itu. Kamu akan membenci hari itu, kamu akan membenci keadaan itu, dan bertanya-tanya mengapa ini harus terjadi ? Kita seakan-akan menggangap Tuhan ini semua tidaklah adil, saya selalu membuat mereka tertawa tersenyum, tetapi mereka sebaliknya ? mereka membuat saya menangis! apakah salahku ya Tuhan ? mengapa Engkau membuat saya mengasihi dan mencintai mereka ? mengapa hari ini harus terjadi dan mengapa saya harus mengalaminya ?

Saya sering membenci 28desember2012. Karena hari ini Tuhan membuat saya harus berpisah selama-lamanya dengan ayah saya. Orang yang selalu membuat saya tersenyum, tertawa, bahagia. Kenapa harus pergi meninggalkanku ? Kadang Tuhan mengijinkan semua itu terjadi untuk melatih kehidupan kita agar kita kuat. Tuhan mengijinkan kita mengalaminya karena Dia tahu kita mampu melewatinya.

Hari ini 16September2014, saya juga kehilangan seseorang yang sudah saya sayang. Saya membenci hari ini. Kenapa hari ini harus terjadi ? Padahal baru kemarin saya tertawa tersenyum bersamanya, tetapi saya tidak tahu pasti dan mengerti kenapa hari ini malah sebaliknya ?

Saya tahu ketika masalah pergumulan datang dalam hidupku, itu semua adalah proses kehidupan kita yang harus kita jalani, yang harus kita lalui. Yakin dan percayalah, ketika kamu dapat melaluinya kamu akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Kamu akan menjadi motivator kepada orang lain. Suatu hari nanti kamu akan tertawa mengingat hari itu. Tuhan tahu kok apa yang terjadi, bukan hanya tahu hari ini tetapi besok sampai selama-lamanya Tuhan tahu apa yang akan terjadi dalam hidupmu, dan yakinlah Tuhan slalu memberikan yang terbaik jauh yang terbaik di luar batas pemikiran kita tentang hidup kita. Tuhan Yesus memberkati dan tetap SEMANGAT MENJALANI HIDUP INI. Hidup ini tidak akan berhenti tetapi terus berjalan sobat :)

Thursday, August 28, 2014

Arti atau pandangan kesombongan

dear blogger

Kesombongan ? apakah anda pernah dikatakan sombong oleh seseorang di tempat baru atau lingkungan baru anda? Padahal menurut anda dan menurut keluarga dan sahabat-sahabat atau temen-temen anda, anda tidaklah sombong, dan mereka tidak pernah mengatakan anda sombong. kalau ya ini merupakan jawaban mengapa orang tersebut mengatakan anda sombong.

   Menurut gue yang pertama karena mereka tidak mengenal benar siapa dirimu sebenarnya. Mereka hanya menilai dan memandang kamu dari sebelah pihak, dan langsung mengatakan anda sombong dengan secepat itu tanpa mengenal siapa anda sebenarnya.

Kedua ketika anda dibilang sombong oleh orang lain pada saat itu anda berarti adalah orang yang lebih dari orang tersebut. Karena ketika akan dikatakan sombong oleh orang lain, kemungkinan besar orang lain tersebut sangatlah iri dengan apa yang anda miliki. Iri hati itu muncul ketika anda lebih pintar, lebih kaya, lebih cantik, lebih ganteng, pokoknya dalam berbagai hal anda adalah orang yang lebih dari mereka, sehingga mereka  mengatakan anda sombong. Tetapi coba ketika anda berada di sekitar orang yang lebih dari anda apakah anda akan dikatakan sombong ?
  Beberapa pandangan contoh yang simple yang dapat gue bagikan buat kalian:

Ketika anda hanya memiliki sebuah android atau tab samsung galaxy dan anda bergaul dengan dia dan teman anda miliki adalah sebuah iphone 4S atau 5S apakah anda akan dikatakan sombong oleh temen anda ? Tidak bukan ? karena anda memiliki ganget tidak lebih bagus dan mahal dari temen anda.

Kedua apakah ketika anda hanya memiliki sebuah motor dan temen anda memiliki sebuah mobil, apakah temen anda akan mengatakan anda sombong ? tidak kan ? kan anda hanya memiliki sebuah motor sedangkan temen anda mobil.

Jadi dapat gue simpulkan bahwa ketika anda dikatakan sombong di tempat anda sekarang, berarti orang-orang tersebut iri dengan anda. Anda lebih unggul dari mereka. Jadi janganlah kuatir, tetaplah jadi dirimu sendiri. Dan biarkan saja, nanti suatu saat hari mereka akan melihat siapa dirimu itu dan akan menyesali apa kata mereka kepada anda ;)

Gue sangat kecewa dengan situasi dan masalah yang ada sekarang, karena mereka iri dengan saya dan mengatakan saya sombong. Gue sblmnya tidak pernah dikatakan sombong kecuali pada saat becanda dan situasi saat itu adalah becanda sehingga gue menyombongkan diri gue. Ada temen gue yang katakan gue sombong dan mengatas namakan beberapa orang, tetapi hanya dia yang mengatakan gue sombong, padahal ya gue slalu baik banget sama dia, tetapi ternyata dia iri sama gue dan mengatakan gue sombong karena gue pintar. Ya menurut gue dia hanyalah iri dengan kepintaran gue karena gue lebih pintar dari dia. Gue slama di SMP dan SMA kadang dibilang sombong atau bahkan tdk prnh dibilang sombong karena temen-temen gue jauh lebih pintar dari gue. Tetapi saat ini yang gue rasain ya inilah ;) yasudah inilah prosesku, gpp kan aslinya gue ga sombong kok. Malahan klo kalian mnta bantuin gue ajarin kalian, ya gue bisa ajarin sesuai kemampuan gue, tetapi dia tdk pernah meminta itu kpada gue, sehingga gue dibilang sombong sama dia. woow TRAGIS ya blogger :D ;))

oke semoga bermanfaat sharing gue malam ini. THANKS ;) GBU

Tuesday, August 26, 2014

sabar :)

Keadaan baru yang kujalani saat ini tidak pernah gue pikirkan sebelumnya. Ditahun yang pertama gue dapat melewatinya semua berjalan lancar, tetapi seiring waktu khususnya saat ini gue mulai terasa tidak nyaman, tidak enak, membuat gue rasanya mau ngamuk sama Tuhan. GUE KANGEN KULIAH GUE YANG PERTAMA. gue ga tahu apa yang Tuhan inginkan dalam hidup gue, tetapi satu hal yang gue pegang yaitu Tuhan slalu memberikan yang terbaik. Disaat seperti ini gue ga ada temen buat curhat, gue makan sendirian, gue pulang sendiri, gue menjalani semua sendiri. Seakan-akan tidak ada seorang yang peduli, yang bbm atau sms atau telp buat nanya sesuatu ke gue " Put dimana ?" Udah makan ?" Makan bareng yuk ?" Temenin gue jalan yuk put ?" . tetapi sekarangKULIAH PULANG LANGSUNG KOST! ga ada acara jalan sama teman-teman ataupun nongkrong seperti yang gue lakukan tahun-tahun lalu bareng temen-temen jogja gue. Sekarang teman-teman gue sangat berbeda pikiran dan pendapat, membuat gue ga nyaman sama mereka. Ada yang malas, masa bodo dengan kuliahnya, ada yang cuek. Kasus hari ini apakah salah ketika gue berusaha membuat sesuatu yang menurut pandangan gue benar ? gue berusaha dosen masuk, walaupun satu orang tidak masuk. Itu kan gara2 dia juga, emang dia pengen pulang. EEEEH malah yang gue lakukan malahan menjadikan gue dipandangan mereka gue egois! Jujur gue ga nyaman dengan keadaan gue skrg. Mereka semua tipe orang yang berbeda sama gue. Menurut gue mereka sepertinya ingin pulang pulang ketika sampai di kampus. Gue bingung, kalau pengen gitu sekalian aja ga kuliah buat apa bayar mahal2 tpi pengen pulang terus. Gue kuliah dulu yaaaa pulang sore terus bahkan malam. Ya itulah yang membuat gue ga nyaman sama mereka. Malam ini air mata gue keluar gara2 keadaan ini, jujur klo disuruh pilih GUE PILIH KULIAH GUE DULU. !!! gue punya teman yang sangat banyak dan baik banget peduli sama gue, apalgi sepikiran sama gue jadi nyambung setiap apa yang kita omongkan dan apa yang akan kita lakukan. Tetapi SEKARANGGGG ???? nyidir-nyidir statuslah, kalau emang ga suka ngomong, jangan sok depan gue senyum senyum. Seumur-umur gue ga pernah di sindir di status! Tetapi skrg gue bingung, kok bisa ya ? ya gue juga harus intropeksi diri gue sih, tpi semua ini belum pernah gue alami sebelumnya.

gue adalah PUTRI seorang manusia yang hanya bisa hidup karena Kasih Karunia Tuhan Yesus, gue hidup untuk Tuhan, jadi gue pasrah dengan kehidupan gue, apa yang akan Tuhan lakukan sama gue saat ini. Meskipun gue ga ada temen, gue ga nyaman, semua menjauh dari gue, ya RAPOPO!! Gue ada sekarang karena Tuhan kok ;)

Friday, July 25, 2014

Perbedaan bahagia dan sukacita

Syallom

kok putri hampir setahun ga ada kabarnya, ga pernah ngeupdate tulisan terbaru, putri kemana yaaaaaaa ? #sokjadiartis. ah klo masalah itu gue bisa jawab. Sebenarnya putri ada kabarnya tp malas nulis aja, gue skrg lebih fokus baca daripada nulis. Nah malam ini ga tahu kesambet apa eeh malah kangen banget yang namanya blogger . Mau dikit berbagi siiih ya mudah-mudaah terberkatiiii kalian yang baca ;)

Kebahagian itu ditentukan oleh situasi keadaan tetapi sukacita itu ditentukan oleh hubungan kita dengan Tuhan.  Gue berani ngomong kayak gni karena gue pernah ngealaminnya! Ketika bokap gue akhir tahun 2012, gue merasa serasa hidup ini tidak akan bahagia lagi. Karena anak mana yang ketika orang tuanya meninggal akan bahagia atau bahkan sukacita ? Tetapi pada saat itu yang gue rahasakan bukanlah kesedihan malahan kebahagiaan bahkan sukacita. Gue seperti anak durhaka yang ketika bokapnya meninggal, anaknya malah sukacita. LOH kok bisa lo ngomong kayak gitu put ? Ya gue bisa! Ketika gue berada di taksi waktu mau pulang ke rumah, dan tiba2 temen gue telp ngasih kabar bokap gue di rumah sakit, gue hanya bisa terdiam dan memikirkan apa yang akan gue liat besok hari. Sampai di rumah sakit gue inget betul itu sekitar jam 10 malam, tepatnya di UGD, bokap gue kayak lg di film-film drama, dikelilingi oleh berbagai macam alat-alat yang jujur bikin gue ngeri banget lihatnya, karena gue tahu orang yang klo udah dikeliling sama alat itu pasti bakalan meninggal dan ga bisa say HELLO lagi ke kita! hanya mujizatlah yang membuat mereka bisa hidup.  YA memang benar apa yang terjadi di film-film itu. Ketika sekitaran 10menit gue nyampe rumah sakit, menurut gue bokap gue kayak tinggal nungguin gue nyampe rumah sakit dan pamitan sama gue, ya menurut gue kayak mau dinas ke tempat yang jauuuuh, yang mungkin ga bakalan balik lagi dan ga bakalan say HELLO PUTRI, udah makan? kok kamu ga bisa gendut kayak papa sih ?. NKetika saat itu terjadi tahu gak yg gue lakukan ? Gue nangis sekencang-kencangnya tetapi tangisan gue di sertai dengan lagu TUHAN YESUS BAIK UNTUK SELAMA-LAMANYA TUHAN YESUS BAIK! lagu itu gue nyanyiin terus menerus sampe ruang UGD itu penuh dengan smuaaa orang yang datang buat katakan hati-hati di jalan ya Pak Paulus. mMungkin yang gue lakukan pada saat itu kalian bakalan pikir gue adalah anak yang senang orang tuanya meninggal karena mungkin ayahnya jahat, ayahnya ga sayang sama dia, atau bisa juga kalian katakan anak durhaka! Tetapi smua yang kalian pikirkan tentang itu semuanya salah! Gue dan bokap gue sangatlah dekaaaat, saking dekatnya ketika gue mau kuliah di jogja bokap gue mati-matiin ga ijinin gue, tetapi karena itu keinginan gue dan gue senang bokap gue dengan hati yang berat dan tangan yang terbuka mengizinkan gue kuliah di luar kota. Gue anak yang paling disayang sama bokap gue, biasanya kata kakak " papa curang, semua keinginan putri dibeliin tapi giliran gue gak". Banyak hal yang bisa gue gambarin saking dekatnya gue sama bokap gue. Singkat cerita, yang gue rasain waktu itu adalah sukacita karena gue tahu bokap gue udah senanggg banget disana, waktu di dunianya sudah selesai, waktu dinas pagi, siang, sore, malam telah usai. Waktu buat mikirin gue yang jauh dari dia, udah selesai. Waktu mikirin kaka gue yang agak dikit bandel telah usai, waktu dengerin celotehan mama ini itu telah selesai. Semua waktu yang membuat dia cape telah selesai, dan waktunya dia tidur enak dan tenang seperti hobi nya. KOK bisa lo sukacita put? IYA GUE BISA, karena pikiran gue kebuka dan gue dapat pengertian ini semua, ada yang yakinin dalam hati gue kalau bokap gue udah bahagia di dunianya yang baru. Pikiran, pengertian itu gue dapat bukan dari orang lain, tetapi dari TUHAN, ketika TUHAN berbicara seperti itu kedalam hati dan pikiran kita, itulah tolak ukur hubunganmu dengan TUHAN. walaupun keadaan atau situasi saat itu tidak memungkinkan buat gue bahagia bahkan sukacita, tetapi TUHANlah yang membuat itu semua.



Dari kesaksian gue, gue dapat membenarkan argumen gue yang diatas tadi. Menurut gue orang yang bahagia belum pasti akan sukacita, tetapi orang yang sukacita sudah pasti bahagia. 

Sedangkan orang yang bahagia belum tentu sukacita itu kayak gini: "gue bahagia kok" tetapi dalam hatinya sakit, dalam hatinya ga rela. Dalam kesehariannya dia kayak ga rela, tetapi dia harus bahagia, karena dituntut oleh keluarga atau teman-teman, sehingga dia harus bahagia. Tetapi dalam hatinya dia tidak bahagia atau bisa di bilang tidak sukacita. Inilah orang yang bahagia tetapi tidak sukacita.